Hakikat Cinta Part 3 | Masalah

Hakikat Cinta Part 3| Masalah
Reni masih tidak habis pikir, bagaimana dia bisa dipasangkan dengan pria itu. Selain karena dia murid baru di sekolah ini, Reni juga mengetahui dengan baik kemampuannya. Tidak mungkin baginya mengikuti perlombaan semacam ini, ataukah ada alasan lain?

 "Mengapa saya harus dipasangkan dengan dia pak?" Reni tidak dapat menahan rasa penasarannya, dia bertanya sambil menunjuk lelaki di sampingnya.

"Maaf maksud bapak bukan yang itu, tetapi orang yang berada disampingnya," ralat Pak Majid

"Huh, siapa?" Reni melihat ke arah yang dimaksud Pak Majid.

"Kamu?" Reni menjerit untuk kedua kalinya saat mengetahui orang yang dimaksud Pak Majid.

Pria yang dimaksud oleh Pak Majid rupanya Awan Syahreza. Reni tidak menyadari kehadirannya karena tertutupi oleh kehadiran pria yang satunya. Dia adalah Reza Agata, pria yang dulunya sangat dipuja oleh Reni dan pria yang pernah memiliki separuh hatinya. Terlebih lagi Reza merupakan cinta pertamanya.

"Kenapa terkejut?"

Pertanyaan yang menarik dirinya kembali ke kenyataan.

"Yah, ka...karena aku tidak melihatmu tadi."

"Wajarlah karena dari tadi yang kau perhatikan cuma dia," Awan mengisyaratkan bahwa yang dia maksud adalah Reza.

"Jadi kalian sudah saling kenal? Baguslah kalau begitu, ini tidak akan menjadi sulit. Dan perkenalkan ini adalah Reza Agata, dia akan bersekolah di sini mulai hari ini. Mohon kalian akur ya!"

Ini tidak segampang seperti yang dikatakan Pak Majid, masalah ini lebih rumit. Reni harus mengikuti lomba dengan Awan, sosok yang menurutnya menjengkelkan. Dan apa-apaan si Reza itu? Mengapa dia harus pindah ke sekolah ini dan membuat Reni mengingat semua kenangan pahit masa lalunya.

*******

Awan meninggalkan ruangan kepala sekolah, dia melihat arlojinya dan rupanya dia masih punya 20 menit sebelum jam pelajaran pertama selesai. Dia juga sudah menebak jika dia dipanggil untuk mengikuti lomba, sebetulnya Awan ingin menolak seperti yang selama ini dia lakukan namun entah mengapa dia merasa tertarik kali ini, bukan tertarik dengan lombanya melainkan dengan pasangannya kali ini. Awan tersenyum karena dapat "bolos" kali ini, dan satu-satunya yang dapat melengkapi kenikmatan ini adalah kopi hitam Ibu kantin.

Awan sempat melihat Reni dan Reza berbicara sesaat setelah keluar dari ruangan kepala sekolah, namun dia tidak ingin mencampuri apapun masalah mereka. Meskipun saat melewati mereka tadi, tatapan mata Reni seolah meminta pertolongannya.

"Sudah kuduga kau disini".

"Ada apa? kau mengagetkanku".

"Ada kabar baik, guru-guru rapat sampai jam 12.00".

"Apa?"

"Kenapa kau terkejut Awan? Seharusnya kau senang," Fandi bingung dengan respon sahabatnya.

"Lihatlah kopiku ini sudah hampir habis, sementara waktu kosong masih panjang," Awan seketika tampak lesu.

"Hahaha"

Arfandi hanya dapat tertawa, bagaimana dia tidak dapat menebak apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu. Jika dia ingat lagi, dia dan Awan sudah berteman sejak kelas 5 SD. Dan yang mengherankan, Fandi masih sangat sulit untuk menebak apa yang dipikirkan oleh Awan sementara pikirannya sangat mudah ditebak oleh Awan.

"Hei, percuma saja kau memikirkannya. Aku itu spesial, makanya aku susah ditebak"

"Jadi maksudmu aku itu hanya termasuk orang rata-rata?" Fandi memelototkan matanya, "eh tunggu dulu, mengapa kau dapat menebak apa yang kupikirkan?"

"Itu tergambar jelas di wajahmu, kau memaksa otakmu untuk bekerja sedangkan kapasitasnya rendah," ejek Awan.

Fandi menjitak kepala Awan lalu seketika dia merasa lega, Awan juga dapat mengetahui itu dan kemudian tawa pecah diantara mereka. Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, kantin mulai ramai karena jam istirahat telah tiba. Awan merupakan makhluk anti sosial dikarenakan kepribadiannya yang berbeda, dan dia selalu di bully oleh siswa lain.

Namun Awan tidak terlalu mempedulikan mereka, dia bisa saja mengalahkan mereka semua dengan argumennya, tapi dia sadar jika itu hanya pemborosan waktu serta dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari itu. Maka dari itu Awan dan Fandi memutuskan meninggalkan kantin akan tetapi mereka dicegat oleh seseorang.

"Hei, lihat siapa ini."

"Bukankah ini si pendiam yang tidak tau caranya bergaul?"

Dia adalah Adrian, teman sekelas Awan dan Fandi dan merupakan tersangka utama yang menyebabkan Awan dijauhi, bukan hanya oleh teman sekelasnya namun hampir sebagian siswa SMA 7. Awan tidak menghiraukan perkataan Adrian dan melewatinya begitu saja, sontak Adrian merasa tersinggung.

"Bahkan kau tidak menyapaku," protes Adrian dengan volume suara yang sengaja dibesarkan.

"Apakah kau merasa paling tampan di sini? Merasa tidak pantas bergaul dengan kami?"

Awan masih tidak menanggapi perkataan Adrian, dia tetap melanjutkan langkahnya.

"Brengsek, apa mulut itu hanya hiasan? Ataukah orang tuamu tidak mengajarkanmu cara berbicara? Hahahaha" Adrian semakin memanas-manasi Awan, berharap ada tanggapan yang diberikan oleh Awan.

Mendengar orang tua sahabatnya dijelekkan, Fandi menjadi emosi. Tangannya sudah mengepal, bersiap membuat mulut yang menghina orang tua sahabatnya menjadi hancur. Namun Awan mencegatnya, dia memandang mata sahabatnya dan berharap sahabatnya itu mengerti apa maksudnya, tidak usah memperdulikan bajingan itu.

Untungnya Fandi mengerti arti tatapan itu dan mengurungkan niatnya, hampir saja Adrian harus berhadapan dengan seorang petinju tingkat nasional. Akan tetapi Awan juga merasa tidak terima dengan ucapan Adrian, aku yang akan mengurus hal ini bisik Awan kepada Fandi.

"Rasanya aku baru mendengar suara Adrian," kata Awan dengan volume suara yang tidak kalah besar dari Adrian, "tapi rasanya tidak mungkin, dia seharusnya masih depresi karena semua nilainya mengkhawatirkan dan lagi dia juga masih malu setelah ketahuan berbohong tentang liburannya ke Eropa," jelas Awan dengan masih membelakangi Adrian.

Adrian hanya dapat menahan emosi karena dia tahu bahwa akan menjadi masalah besar jika dia yang duluan memulai keributan, terlebih semua yang dikatakan Awan merupakan fakta. Dia hanya dapat memperhatikan punggung Awan semakin menjauh, sementara siswa yang ada di kantin mulai berbisik-bisik.

Awan dan Fandi terkekeh setelah meninggalkan kantin, mereka merasa puas dan membayangkan wajah Adrian yang merah padam dikarenakan emosi bercampur malu. Tak sengaja Awan melihat dua orang siswa sedang berbincang saat melewati kelas XI IPA 1, tiba-tiba langkah Awan terhenti dan dengan sangat cepat memasuki kelas XI IPA 1. Fandi tak sempat bertanya ada apa, dia kemudian mengikuti jejak Awan. Saat di pintu masuk, Fandi melihat Awan memegang kerah baju seorang pria sementara tinjunya telah siap dilancarkan.

0 Response to "Hakikat Cinta Part 3 | Masalah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel